- Tuesday, 20 March 2012 11:15
Praktek
pelatihan di lapangan
Bukan Sekedar Permainan
Usai mengikuti pelajaran dan mengaji di
kelas, Ulin Nuha 16 tahun, Ahmad Amin Nuwloh 14 tahun dan belasan
temannya bermain sepakbola. Mereka berlari dan mengolah bola di lapangan
futsal yang terletak persis di belakang sekolah mereka.
Ulin dan Amin adalah siswa Pesantren
Quthrotul Falah, di Cikulur, Banten.
Saat istirahat, dengan air dari ember
dan gayung yang sama, mereka melepas dahaga dan bercerita soal sepak
bola. Olahraga ini merupakan menu wajib usai mengikuti pelajaran di
pesantren, ujar Ahmad Amin Nuwloh.
“Suka main bola. Itu olahraga yang
menyenangkan. Hidup tanpa main bola kayanya agak kurang, karena
olahraga, melatih fisik. Setiap minggu kadang-kadang setiap hari.”
Abdul Aziz (ASA),
berbaju merah, memberikan materi di lapangan
“Mungkin lebih senang saja gitu.
Biasanya di sini agak pusing, banyak pelajaran, apa gitu. Intinya lebih
fresh saja pada otak kita.”
Namun, sepakbola ya hanya sepakbola. Tak
lebih.
“Saya kurang tahu mendalam yang kaya
gitu. Ia, main bola saja. Belum tahu isinya. Ternyata di dalam sepakbola
itu banyak sekali. Bukan hanya main bola saja.”
Yang dimaksud Amin adalah nilai lebih
dari olahraga itu yang dikenalkan oleh lembaga Search for Common
Ground SCG bersama Akademi Sepakbola Asia ASA.
Dua lembaga ini mengunjungi pesantrennya
untuk menggelar pelatihan bertajuk Sepakbola untuk Perdamaian. Dari
sini Ulin mengetahui kalau sepakbola bukan hanya sekedar permainan.
“Biasanya kalau latihan tidak begitu,
biasanya cuma lari terus passing. Ini mah latihan dulu, lebih seru. Asik
saja sama teman-teman. Ada pengalaman baru.”
Ada 10 guru olahraga yang melatih Amin,
Ulin dan belasan temannya. Ke-10 guru itu juga telah mengikuti program
Sepakbola untuk Perdamaian. Mereka berasal dari berbagai sekolah di
Kabupaten Lebak.
Diantaranya Wardoyo, guru olahraga SMA
Negeri 1 Cikulur dan Razali Hamzah, guru olahraga di MTS Ar Ribathiyah.
Pelatihan di ruang kelas
“Saya siap tiga hari, saya menyatakan
siap tiga hari di sini.”
Penanggungjawab pelatihan dari Akademi
Sepakbola Asia Abdul Aziz mengatakan, sepakbola adalah medium yang
efektif untuk meredam konflik. Salah satu materi yang diberikan adalah relay
race.
“Kita ingin mengenal sebuah konflik.
Pertama kita sebut dengan relay race yang berarti menyusun sebuah kata
untuk menjadi sebuah kalimat. Kalimatnya itu bertujuan untuk negosiasi
menuju perdamaian. Karena kalau kita mempunyai konflik dan tidak
bernegosiasi bisa menjadi konflik, pertikaian. Oleh karena itu, kita
mengajarkan kepada mereka mengenal, utamanya kalau mendapatkan sebuah
konflik harus bernegosiasi atau bermusyawarah agar tidak terjadi
permusuhan.”
Selain relay race, Aziz juga
mengajarkan simulasi lain yang diberi nama: check in, chek out.
“Check in, check out ini bertujuan life
skill-nya adalah menerima perbedaan suku, budaya dan bangsa di antara
lainnya. Dalam sepakbola ada satu sentuhan, dua dan tiga sentuhan. Di
mana satu kelompok bermain dengan satu sentuhan dan kelompok lainnya dua
sentuhan dan tiga sentuhan. Kemudian pada saat saya bilang pindah, maka
satu orang di tiap timnya itu, di tiap posnya itu harus pindah satu
orang ke pos lain. Maka, nanti mereka ada di satu posnya itu ada yang
satu sentuhan, dua dan tiga sentuhan dan semuanya itu berbeda-beda
tetapi dalam satu pos. Di situ kita mengajarkan, di sini kita menerima
orang lain, dari mana pun dia, suku, budaya, agama manapun dia, kita
tetap menerima dia dengan baik.”
Quthrotul Falah adalah pesantren ketiga
dari 10 pesantren yang sudah disambangi SCG dan ASA. Sebelumnya
pelatihan digelar di Tanggerang, Cirebon, Solo dan Makassar.
PJ Football for Peace, Maghfiroh Hijroatul
memberikan materi di dalam kelas
“Kita memilih beberapa pesantren dan
akhirnya kita menjatuhkan ke 10 pesantren dengan beberapa kriteria.
Pastinya pesantren itu berdekatan dengan daerah yang berdekatan atau
beresiko, yang rawan radikalisme, terorisme. Umpamanya Solo. Kita
memilih Solo karena berdekatan dengan pesantren lain yang menyajikan,
apa ya... saya agak sungkan mengatakannya, produknya teroris. Kemudian
di Cirebon, kasus kemarin pengeboman itu.”
Sepakbola dipilih karena selain populer,
olahraga ini dianggap sebagai media yang efektif untuk mengatasi
konflik dan membangun perdamaian di pesantren.
Mengenal Konflik untuk
Meredamnya
Maghfiroh Hijroatul dari Common Ground
sedang mencairkan suasana kelas pada pertemuan pertama. Ia adalah
penangung jawab program Sepakbola untuk Perdamaian. Di depan kelas,
Firoh bertanya, ‘Apa itu konflik?’
Ia pun membacakan jawaban para peserta.
Sebagian besar peserta mengidentifikasi
konflik sebagai perbedaan pendapat, sikap keras kepala yang berujung
pada tindakan destruktif, seperti adu jotos.
Konflik tidak harus destruktif atau
merusak. Firoh mengatakan, konflik juga memiliki sisi konstruktif atau
membangun, kalau tidak menonjolkan kekerasan dalam menyelesaikan
masalah.
“Bagaimana proses menyelesaikan konflik
adalah alami dan ada di sekitar kita. Konflik itu tidak hanya kekerasan
itu yang paling penting kita utamakan. Kita membongkar habis asumsi yang
ada sekarang ini. Kalau di dua pesantren yang kemarin, selalu kalau
ditanya tentang konflik yang muncul itu destruktif, yang negatif.
Konflik itu berantem, kekerasan, darah.
Pengalaman pelatihan di Makassar
menunjukan masih ada asumsi yang keliru soal konflik, lanjut Firoh.
“Ada pak Ilham. Hari pertama dia memakai
kaos yang (bertuliskan -red) Jihad the Only Solution dengan gambar
pistol dan pedang dan kemudian beliau menggunakan celana tcingkrang,
berjenggot. Lagi-lagi, padahal saya sudah mengerti teorinya, saya tidak
boleh berasumsi dulu dan beranggapan negatif. Bisa-bisa kontra
produktif, bisa-bisa tidak berhasil. Ternyata ketika kita buka,
menyosialisasikan latar belakang pelatihan dan sebagainya. Pertanyaan
kritis Pak Ilham adalah mengapa harus pesantren, pesantren kan tidak ada
konflik. Saya sudah deg-degan, waduh apakah ini.”
Firoh menjawab pertanyaan itu dengan
hati-hati.
“Banyak orang bilang, mengapa pesantren,
pesantren memang sumber teror. Kita tidak menganggap itu. Kita ingin
menyebarluaskan benih-benih toleransi, perdamaian ke semua penjuru dan
elemen masyarakat. Pesantren kan termasuk komunitas terbesar di
Indonesia.”
Di pinggir lapangan, Maghfiroh
menjelaskan peran sepakbola sebagai peredam potensi konflik. Serta peran
penting ustadz, kiai, dan guru pesantren untuk turut menebar benih
toleransi.
“Dengan ini kita ingin menekan eksekusi
kekerasan terhadap penyelesaian konflik. Jadi mungkin kalau di Banten
ini terkait dengan kasus Ahmadiyah kemarin. Kita berharap dengan ini
santri, kyai juga bisa lebih tidak reaksioner dalam menghadapi
perbedaan, dalam menghadapi konflik.”
Pengasuh Pondok Pesantren Quthrotul
Falah, Achmad Syatibi Hambali mengapresiasi kegiatan ini.
“Sangat bagus. Terutama untuk
perdamaian. Artinya di mana sekarang banyak hal, yang kadang-kadang
dengan persoalan sedikit jadi persoalan. Dari hal kecil, jadi persoalan.
Dengan adanya (sepakbola untuk –red) perdamiaan, ini harus digalakan.
Baik itu di komunitas muslim, maupun dengan yang lainnya harus dijaga.”
Achmad Syatibi Hambali yang juga Ketua
Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Lebak ini berharap program
semacam ini bisa terus dilakukan.
“Itu sangat penting. Kita intinya harus
sama-sama saling menghargai dengan yang lain, toleran. Jadi kalau kita
tidak dididik dengan toleransi ya kadang-kadang orang itu ingin menang
sendiri. Kita terapkan. Artinya kita harus mau berbeda pendapat dan kita
harus menghargai pendapat orang lain. (Tanpa adu jotos?) Tanpa adu
jotos, tanpa ada aksi kekerasan. Yang rugi kita sendiri. Tujuan tidak
bakal tercapai.”
Penanggungjawab Sepakbola untuk
Perdamaian Maghfiroh Hijroatul sadar sosialisasi materi toleransi ini
tidak mudah untuk dilakukan. Namun, ia optimistis program ini akan
mencapai target.
“Saya, kami dari Common Ground
sepertinya sangat optimis bahwa ini lebih efektif untuk mencapai tujuan
kami. Untuk mempromosikan nilai-nilai toleransi dan transformasi
konflik. ”
Peserta pelatihan Agus Faiz Awaludin
siap meneruskan materi toleransi kepada peserta didik yang ia bimbing di
pesantren Quthrotul Falah.
“Kalau di pondok saya mengajar kitab
kuning. Kalau di sekolah saya mengajar eksak, matematika dan fisika. (di
tengah rutinitas kamu mengajar apakah akan menyisipkan poin yang
didapatkan dari pelatihan tadi?) Pasti saya sisipkan, bisa diterapkan
dalam mata pelajaran saya, mungkin bisa saja.”
Belajar toleransi dari sepak bola,
membangun perdamaian untuk Indonesia.